"Tapi seharusnya cakupan 90 persen. Untuk itu, tahun ini kami akan meningkatkan cakupan imunisasi dan kualitasnya," kata Teguh.
Dia menyebutkan, penularan difteri sangat cepat bagi anak yang tidak pernah dapat imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus). Oleh sebab itu, yang perlu diantisipasi yakni orang-orang yang berhubungan atau kontak dengan anak-anak seperti guru TK maupun SD.
“Contohnya saat difteri menginfeksi seseorang, mungkin dia hanya merasa batuk-batuk biasa saja. Padahal sudah difteri. Nah, begitu dia dekat anak balita yang tidak imunisasi, maka tertular-lah anak itu," katanya menjelaskan.
Dinkes juga akan melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri sebagai upaya antisipasi. Misal ada satu desa ditemukan penderita difteri, maka cakupan imunisasi DPT harus ditingkatkan.
"Jadi dilihat cakupan imunisasi DPT-nya, kemudian dari hasil penyidikan dimungkinkan nggak vaksin diberikan kepada anak di bawah 18 tahun. Makanya, kemarin mahasiswa USU yang ada kontak dengan mahasiswi yang meninggal suspect difteri diberi vaksin semuanya," ujar Teguh.