Sebab untuk bisa melompati batu, mereka harus latihan selama bertahun-tahun dari sejak kecil.
"Saya salah satu pelompat dari Desa Bawomataluo. Saat ini kami tinggal 5 orang yang bisa melompat," ucap Silfester Putra Fau kepada iNews, Sabtu (21/9/2024).
Kata Putra, awalnya dia latihan menggunakan bambu dimulai dari tinggi 1 meter kemudian ditambah jadi 1,5 meter hingga 2 meter. Setelah itu baru melompati batu tersebut.
"Ada saja di luar sana yang menganggap sepele karena ada tumpuannya, ya memang ada tumpuannya tapi nggak sembarangan orang yang bisa loncat. Di Desa Bawomataluo yang jumlah pemudanya ribuan tidak semua bisa melompat," katanya.
Menurutnya risiko lompat batu ini sangat besar. Bukan saja sekadar melompat, tetapi juga harus bisa mendarat dengan sempurna jika tidak yang bisa cedera otot bahkan patah tulang.