"Mau pulang ambil sendal, didorong saya tercampak masuk parit, orang umur empat tahun. Untung parit zaman itu airnya jernih, kalau sekarang ikan aja pingsan, apalagi orang," katanya.
Melihat dia jatuh, guru mengaji langsung meloncat ke parit dan mengangkatnya. Dia digendong dan dibawa pulang ke rumah. Dari cerita sang guru, ternyata bapak Tengku Zulkarnain kesal mengetahui kejadian yang dia alami.
"Karena bapak saya bos di situ, begitu sampai, ini pak, anak bapak jatuh ke parit, kata guru saya. Bapak saya mau marah sama guru saya itu ga jadi marah karena guru saya basah juga. Begitu sampai guru itu pulang, dia bilang apa, berhenti ngaji, sudah tahu banyak orang-orang tidak beres," katanya menceritakan ucapan sang bapak.
Tengku Zulkarnain akhirnya berhenti mengaji dan belajar sendirian dengan gurunya. Dia pun berhasil dan bisa membaca Alquran dengan bagus. Bahkan, di usia delapan tahun, dia sudah nenjadi imam di desanya.
"Saya sudah jadi juara MTQ, tingkat kecamatan dan seterusnya sampai ke provinsi. Membahagiakan sekali hidup waktu itu," ujarnya.