Setiap malam, warga desa setempat merasakan kondisi gelap gulita tanpa ada penerangan dari PLN. Hanya segelintir warga mampu saja dapat menikmati listrik, itu pun dengan menggunakan alat genset.
Sutar Saragih warga lainnya mengaku sudah berulang kali mengajukan ke PLN Tanjung Morawa maupun pemerintah setempat agar kampung mereka dapat aliran listrik. Namun sampai saat ini hasilnya nihil.
"Sejak tahun 1960 kampung ini berdiri, sampai sekarang di 2020 warga kami belum mendapat aliran listrik. Belum sekalipun kami rasakan sarana PLN," kata Sutar.
Warga kini pasrah karena hanya terus diberi harapan dan janji. Mereka berharap, arti kemerdekaan yang dirasakan masyarakat lainnya di Bumi Pertiwi dapat juga mereka nikmati.
Selain listrik, selama ini warga kampung tersebut juga minim mendapat bantaun sosial. Satu-satunya hanya drainase sepanjang 145 dari dana desa.
"Bukalah mata hati kalian, pemerintah, PLN. Kami sangat berharap, beri apa yang layak kami terima. Kami butuh penerangan," ujarnya.