Kendati begitu, dia mewanti petani porang agar selalu melakukan perhitungan sehingga nantinya tidak over suplay yang justru akan merugikan.
"Karena itu perlu adanya komunikasi dengan Dinas Perdagangan dan Kementerian Perdagangan agar ada perhitungan yang tepat. Jangan sampai karena terlalu menggebu, ini merugikan. Kalau bisa juga kita ada pabrik pengolahannya, agar tidak bergantung dengan pihak lain," katanya.
Untuk diketahui, tanaman porang atau di Sumsel lebih dikenal juga dengan nama talas ular merupakan spesies dari Amorphophallus muelleri.
Dilansir dari Kementerian Pertanian, umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang.
Porang juga merupakan tanaman yang toleran dengan naungan hingga 60 persen. Tanaman ini dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain. Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung.