Sementara, peternak bisa dikatakan akan mendapatkan untung jika harga di kandang berkisar Rp18.000 per ekor. “Peternak rugi sekitar Rp5.000 per ekor, siapa yang bisa tahan. Lama-lama ya terpaksa tutup peternakan,” kata dia.
Bukannya peternak menyerah atas kondisi ini, namun upaya untuk menghadapi pelemahan daya beli masyarakat ini juga sudah dilakukan mereka dengan cara menekan biaya produksi. Sebagian sudah mengurangi jumlah tenaga kerjanya, hingga mengurangi produksi.
Saat ini asosiasi memperkirakan terjadi penurunan permintaan sekitar 25-30 persen dibandingkan dalam kondisi normal terhadap ayam potong dari kebutuhan sekitar 120.000 ekor per hari untuk Kota Palembang dan 250.000 ekor per hari untuk Sumatera Selatan.
Namun, pengurangan produksi yang dilakukan kurang berdampak signifikan lantaran saat ini produksi dari luar provinsi juga masuk ke Palembang, seperti dari Lampung dan Jambi.
“Bahkan dari Jawa juga masuk ke sini (Palembang) sejak ada jalan tol. Ini umumnya berasal dari peternakan skala industri yang satu kandang saja bisa memproduksi 50.000 ekor ayam,” kata dia.