Sembilan perempuan menyimbolkan Batanghari Sembilan, yakni sembilan sungai besar yang melintasi wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Sedangkan tiga pria memegang payung untuk memayungi penari utama di bagian depan yang membawa tepak berisi kapur sirih untuk diberikan dan dicicip tamu agung.
Mengutip laman kemdikbud.go.id, berikut gerakan inti Tari Gending Sriwijaya :
1. Tutur sabda, penari menyilangkan tangannya dan diarahkan ke kanan kemudian ditarik ke depan.
2. Tabur bunga, tangan kiri berada di depan dada sementara tangan kanan bergerak menaburkan bunga.
3. Borobudur, tangan dikebarkan ke belakang diikuti dengan ukel ke depan kemudian saling tumpeng taling.
4. Tafakur, jari-jari penari membentuk lambang Tri Murti.
5. Siguntang mahameru, yakni tangan diarahkan ke samping kemudian digerakkan ke atas kepala dengan tangan kiri depan dada.
6. Ulur benang, yakni tangan menyilang dan diayunkan seperti mengulur benang.
Selanjutnya penari melakukan gerapan penutup yakni tolak bala, gerakan penolakan bala (bahaya atau musibah). Mendengar, di mana tangan kanan ngiting di atas telinga kanan sedangkan tangan kiri di depan dada. Terakhir sembah penutup, tangan menyilang dan melakukan gerakan ulur benang. Kemudian tangan kanan bergerak kebar, ukel dan diikuti oleh gerakan sembah.
Menurut sejarah, Tari Gending Sriwijaya diciptakan untuk menyambut tamu agung pada zaman kerajaan. Karena itu, pada masa itu, tari ini hanya dipentaskan pada saat tertentu di hadapan pada tamu agung atau petinggi kerajaan.
Namun kemudian, dalam perkembangannya, Tari Gending Sriwijaya menjadi sebuah kesenian dalam festival budaya, hiburan saat pesta pernikahan dan kegiatan instansi pemerintahan.
Demikian pola lantai Tari Gending Sriwijaya disertai penjelasan fungsi dan gerakan Tari Gending Sriwijaya.