Petani di Sumsel Mulai Tinggalkan Karet, Pabrik Terpaksa Impor Bahan Baku dari Vietnam

Dede Febriansyah
Sebagian petani sudah mulai meninggal karet karena harganya tidak menarik. (Foto: Ilustrasi/Ist)

Sementara itu, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, Rudi Arpian mengatakan, produksi karet Sumsel mengalami penurunan dari 1,1 juta ton pada 2020 menjadi hanya 900.000 ton pada 2021.

"Penurunan ini diperkirakan disebabkan tiga faktor yakni menurunnya produktivitas kebun karena sudah berusia tua atau belum diremajakan. Lalu, menurunnya gairah petani untuk memanen karena harga yang rendah, hingga pengalihfungsian lahan karet menjadi lahan sawit," kata Rudi.

Saat ini harga karet di tingkat petani yang dijual melalui Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar mencapai Rp12.000 per kilogram untuk masa pengeringan satu minggu atau KKK 60 persen. Sementara jika menjual ke tengkulak, petani hanya mendapatkan harga sekitar Rp10.000 hingga Rp8.000 per kilogram.

"Kami melihat persoalan harga ini yang membuat petani malas menyadap karet, karena umumnya mereka juga hanya buruh yang menerapkan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan," katanya.

Editor : Berli Zulkanedi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Minyak Goreng Satu Harga Mulai Berlaku di Sumsel

57 tahun lalu

Usai Kawal Vaksin Covid-19, Mobil Ditlantas Polda Sumsel Terguling

57 tahun lalu

Palembang Terendam Banjir usai Hujan, Begini Saran DPRD Sumsel

57 tahun lalu

Seharga Rp8.300 per Kg, Bulog Beli 80.000 Ton Beras Petani Sumsel

57 tahun lalu

Kasus Kredit Modal Kerja, Kejati Segera Panggil Petinggi BPD di Sumsel

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal