Namun Rumah Limas yang dibangun di masa Kesultanan Palembang Darussalam tersebut, juga sarat akan nilai-nilai budaya Islam. Tiang-tiang kokoh yang menyangga bagian bawah Rumah Limas pun menggambarkan bagaimana hunian ini beradaptasi dengan kontur daerah Palembang. Di masa lalu, hingga 75 persen kawasan Palembang merupakan rawa atau perairan.
Di dalam Rumah Limas, ada berbagai tingkatan yang juga sarat akan filosofi kehidupan. Tingkat pertama disebut pagar tenggalong, tingkatan kedua disebut Jogan, yang menjadi ruang penjagaan untuk prajurit.
Tingkatan ketiga yaitu ruang gegajah, di mana ruangan ini khusus untuk tamu kehormatan atau orang yang dituakan. Lalu, di tingkatan ke empat yaitu ruang kerja yang digunakan untuk memasak, menenun dan aktifitas lainnya. Sedangkan tingkatan ke lima disebut Sesimbur Pengantin, yang biasanya lebih dekat dengan sumber air. Tingkatan ini juga biasanya digunakan untuk toilet di masa lalu, agar bisa lebih dekat dengan Sungai Musi.
Beberapa wilayah juga hanya menyebut rumah ini sebagai rumah gudang. Rumah adat ini masih satu rumpun dengan rumah limas yang mana tergolong sebagai rumah iliran, namun juga terdapat di beberapa daerah ulu seperti Kabupate Musi Rawas.
Sebagai contoh, di Desa Maru Baru, Kecamatan Rupit, Musi Rawas Utara (Muratara) terdapat satu rumah adat cara gudang yang masih berdiri. Namun kondisinya mulai usang butuh perbaikan.