"Sejak pemilihan terakhir tahun 2006, Abbas mengkonsolidasikan perpecahan politik baik dengan Hamas dan di dalam Fatah, dan setiap pidato tentang persatuan nasional telah menjadi fantasi," kata Sawaf kepada Anadolu Agency.
Dia mengatakan Abbas mengendalikan Tepi Barat dengan pasukan keamanan yang agresif melawan oposisi, dengan penindasan ini mencapai puncaknya dengan petugas keamanan membunuh aktivis oposisi Nizar Banat pada Juni 2021.
"Dia seorang diktator, dan dia tidak percaya pada demokrasi dan pertukaran kekuasaan, dia tidak percaya pada pemilihan umum, dan tidak pernah serius tentang persatuan nasional," kata Sawaf.
Pemilihan Palestina seharusnya diadakan pada tahun lalu, tetapi Abbas menundanya hingga tanggal yang tidak pasti. Sawaf menegaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengakhiri kebuntuan politik saat ini adalah melalui strategi politik yang signifikan yang mencakup semua faksi Palestina dan meninggalkan "Abbas di belakang mereka".