Dengan sendirinya sejarah Sriwijaya itu berhubungan dengan sejarah negara-negara lain yang menggunakan Selat Malaka sebagai lalu-lintas, dan namanya teringat pula dalam sejarah asing. Apalagi, karena terbukti bahwa Sriwijaya merupakan salah satu negeri besar di antara negeri-negeri di laut Selatan.
Letak Kerajaan Sriwijaya sendiri ternyata disebut Moens, tidak sepenuhnya berada di Palembang atau Sumatera Selatan. Pada mulanya pusat kerajaan itu terletak di pantai timur Malaya, kemudian berpindah ke Sumatera Tengah dekat Muara Takus. Sangat menarik perhatian, bagaimana Moens menggunakan berita- berita geografi untuk menegakkan teorinya.
Dari sejarah Sung, tercatat bahwa empat hari perjalanan dari Cho-p'o orang sampai di laut, jika berlayar ke arah barat laut sesudah 15 hari, orang sampai di P'o-ni, dan lima 15 lagi sampai di San-fo-ts'i. Juga diberitakan bahwa San-fo-ts'i terletak di antara dan Cho-p'o. Berdasarkan berita geografi itu, Moens mengambil kesimpulan bahwa San-fo-ts'i terletak di Semenanjung Melayu.
Sementara, berita Arab yang berasal dari Abu Zaid juga menyimpulkan letak San-fo-tsi berada di pantai timur Semenanjung. Moens menyamakan San-fo-tsi dengan Kadaram, yang membuatnya terpaksa melokalisasi Kadaram di pantai timur semenanjung.
Abu Zaid pun menyimpulkan pusat Kerajaan Sriwijaya berada di Muara Takus. Hal ini didasari dua hal, pertama berita I-tsing mengenai bayang-bayang diwelacakra yang tidak menjadi panjang atau pendek, pada pertengahan bulan delapan. Pada tengah hari, orang yang berdiri di matahari tidak berbayang-bayang sama sekali. Muara Takus terletak pada garis ekuator O. 20' N. Jadi, cocok dengan berita I-tsing.