“Untuk Palembang sebenarnya bukan sumber asap, namun menjadi wilayah paling parah terdampak asap seperti yang terjadi pada 2015 kemarin. Arah angin dari sumber asap yakni di Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir membawa asap hingga ke Palembang,” ujar Lesty.
Dia menambahkan, secara bulanan, bulan April menjadi masa paling parah dengan jumlah 54.409 penderita, disusul Maret dengan 54.237 penderita. Sementara penderita pada Februari sebanyak 50.837, Januari sebanyak 44.142 penderita, Mei sebanyak 40.459 penderita, dan 30.418 penderita pada Juni.
Lesty mengatakan, ISPA bukan hanya disebabkan oleh kabut asap, tapi juga virus yang menyerang sistem pernapasan. Namun, kabut asap yang membawa partikel kebakaran akan memperburuk dan meningkatkan jumlah penderita.
“Dengan datangnya musim kemarau, potensi karhutla menyebabkan terjadinya kabut asap pun akan semakin tinggi. Oleh karena itu kami sudah melakukan sejumlah antisipasi pencegahan dan penanggulangan,” katanya.
Untuk langkah pencegahan dan pengendalian, Dinkes Sumsel telah menginstruksikan Dinas Kesehatan kabupaten/kota melakukan langkah-langkah penanggulangan. Langkah itu di antaranya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menggunakan masker apabila bepergian, serta memperbanyak minum air putih.
“Bila terjadi peningkatan kasus penderita ISPA, pneumonia, konjungtivitis, dan diare di daerah, kami meminta kepada surveilans kesehatan melakukan langkah-langkah pengendalian dengan cermat,” katanya.