Kondisi yang dialami oleh sebagian besar daerah di Indonesia Bagian Barat itu disebabkan oleh terjadinya dinamika atmosfer seperti, peningkatan suhu muka laut di perairan barat Sumatra dan Maden-Julian Oscillation yang aktif di fase dua dan tiga.
Bahkan khusus untuk Sumsel, fenomena itu menyebabkan peningkatan intensitas hujan yang terjadi satu dasarian lebih cepat dari prakiraan pada Oktober sekarang pertengahan September yang notabene masih musim kering sudah hujan di sebagian besar daerah.
Sementara itu Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatra Selatan Iriansyah, mengatakan, setiap daerah berpotensi mengalami bencana khususnya banjir, namun ada daerah-daerah rawan bencana sudah terpetakan.
Hal itu meliputi daerah dengan topografi pesisir dan dataran tinggi seperti Ogan Komering Ulu, Musi Rawas, Ogan Komering Ulu Timur, Penukal Abab Lematang Ilir, Lahat Tanjung Sakti Pumi, Pagaralam dan Empat Lawang Pendopo litang, Banyuasin.
Seiring meningkatnya intensitas curah hujan dan potensi bencana alam yang ada, pihaknya sudah melakukan koordinasi ke setiap badan kedaruratan ataupun pihak terkait di setiap kabupaten kota untuk melakukan mitigasi bencana baik dalam upaya sosialisasi ataupun tindakan kesiapsiagaan.
“Bencana ini adalah urusan bersama, kesiapsiagaan tetap kami lakukan dengan menjaga sistem komunikasi dan koordinasi bersama semua pihak termasuk masyarakat,” ujarnya.