Hujan Buatan di Sumsel Dihentikan Mulai 26 Juni

Antara
Penerapan teknologi modifikasi cuaca di Sumsel berakhir pada 26 Juni. (Foto: Ilustrasi/Ist)

“Dalam 15 hari itu, dilakukan 17 kali sorti dan hanya dua hari yang tidak terbang karena saat itu awan yang berpotensi hujan tidak ada. Setiap satu kali terbang pesawat membawa 800 kg garam,” kata dia.

Untuk optimalnya kegiatan TMC ini, selain memanfaatkan informasi cuaca dari BMKG, tim juga bekerja sama dengan stasiun mini cuaca Automatic Weather System (AWS) yang dimiliki sejumlah perusahaan perkebunan di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin dan Banyuasin. Di antaranya AWS milik PT Sumber Hijau Permai dan PT Tripupajaya di Kabupaten Banyuasin.

Tim memprioritaskan penyemaian garam di awan yang berlokasi di atas titik api (hotspot), di kawasan gambut yang sudah lama tidak mengalami hujan, dan di lokasi mana saja asalkan berpotensi hujan.

Namun, sebagian besar TMC dilakukan di atas kawasan gambut kering mengingat selama periode kegiatan ini tidak didapati hotspot.

Oleh karena itu TMC ini pun dipandang efektif untuk membantu peningkatan tinggi muka air gambut, yang mana diharapkan tetap berada di angka 40 cm di atas permukaan tanah.

Editor : Berli Zulkanedi
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Pasien Covid-19 Asal Tangerang Dimakamkan di OKU Sumsel, Ini Alasannya

57 tahun lalu

Covid-19 di Sumsel Bertambah 144 Kasus

57 tahun lalu

Polda Sumsel Musnahkan 3,5 Kg Sabu yang Sebagiannya Tujuan Lapas di Lampung

57 tahun lalu

Jelang Terbang ke Papua, 120 Atlet Sumsel Akan Terima Vaksin Tahap Kedua

57 tahun lalu

Polda Sumsel Kawal Tim Medis Sukseskan Vaksinasi Sejuta Dosis per Hari

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal