Kemudian Arya Tebing meminta waktu seminggu kepada Serunting untuk berlatih, Arya Tebing bertanya kepada kakanya apa kelemahan dari Serunting. Arya Tebing berjanji untuk tidak membunuh Serunting Suminya. Dan kakaknya mengatakan bahwa Serunting akan kalah jika ada yang memukul rumput alang-alang.
Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu mereka memulai pertarungan, dan terlihat bahwa Serunting memang sangat kuat dan tak terkalahkan. Ketika Arya Tebing semakin terdesak maka dipukulah rumput alang-alang sehingga Serunting menjadi lemas. Serunting pun kalah dan mengatakan “Pasti yang memberitahumu mengenai kelemahanku adalah kakamu”. Serunting pergi dari Kampung tersebut.
Dan bertemulah dia dengan orang sakti yang menyuruh Serunting untuk melakukan pertapaan di sekitar bambu sampai daunnya rontok ke tubuhnya. Serunting menyanggupi hal itu dan Serunting menjadi sakti, setiap yang dikatakannya maka akan menjadi kenyataan, itulah sebabnya Serunting dijuluki dengan Si Pahit Lidah.
Kemudian Serunting berjalan ke arah persawahan dan mengucapkan “Sawah jadilah emas” kemudian sawah itu berubah menjadi emas. Serunting juga melewati aliran sungai yang tidak ada airnya. Serunting berkata “Munculah air” kemudian air pun terisi ke aliraan sungai tersebut.
Setelah memiliki kesaktian dan terus mengembara, akhirnya Serunting menyadari kesalahannya yang telah serakah. Kemudian Serunting pulang ke desa dan menemui Arya Tebing dan istrinya untuk meminta maaf atas ke serakahannya.
Dapat kita ambil hikmahnya yaitu untuk tidak terlalu serakah terhadap harta benda dunia. Apabila itu bukan milik kita dan bukan hak kita, jangan direbut. Karena Tuhan tidak suka dan akan ada balasannya.
Demikianlah Kisah Si Pahit Lidah di Sumatera Selatan yang bisa kita ambil hikmah dan petik pelajaran di dalamnya.