“Kami mengggunakan dua metode, menghitung bulan dengan memakai kalender dengan metode hisab munjid dan melakukan hisab rukyat,” katanya.
Tapi hitungan bulan ini merupakan hal penting bagi terekat ini, namun juga digandengkan dengan melihat bulan di ufuk timur dengan mata telanjang.
“Sudah dua hari ini saya melihat bulan sebelum dan sesudah subuh, tapi bulannya tidak tampak dua hari lalu kondisi berawan, tapi tadi pagi tidak berawan Tamun tidak nampak. Kalau tidak tampak bulan maka kita hitung puasa kita memakai metode hisab munjid, hari ini sudah genap 30 hari kita melakukan puasa,” ucapnya.
Jika tarekat Syattariyah melihat bulan pada magrib di ufuk barat, tarekat Naqsabandiyah ini melihat bulan pada subuh di ufuk timur.
“Bulan yang kita lihat itu seperti sabit dengan sinar menguning sebelum matahari terbit,” ujarnya.