Allah memberikan hidayah untuk bertaubat atau beramal, sehingga kita bisa mencari sebab ampunan dosa.
Bertawassul dengan ridha Allah untuk menghindari murka-Nya dan bertawassul dengan Mu’afah-Nya untuk terhindar dari hukuman-Nya adalah bentuk permohonan perlindungan terhadap sesuatu dengan menyebutkan lawannya. Seperti halnya mengobati penyakit dengan obat yang berlawanan; antibiotik untuk infeksi bakteri, antihistamin untuk alergi, dan antiinflamasi untuk radang.
Ketiga, kita membaca,
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ
"Wa a'udzu bika minka"
Kalimat ini jika diterjemahkan secara harfiah berarti “Aku berlindung kepada-Mu dari-Mu.”
Namun, kita bisa menambahkan kata-kata yang diprediksikan di sini menjadi:
“aku berlindung kepada-Mu dari siksa-Mu.”
Allah adalah Dzat Yang Maha Agung, Maha Perkasa, dan Maha Kuasa. Apa yang bisa kita bayangkan ketika Allah murka kepada salah satu makhluk-Nya? Kepada siapa dia bisa berlindung? Tidak ada makhluk yang mampu memberikan perlindungan! Hanya kepada Allah lah kita berlindung dari murka-Nya.
Kalimat ini benar-benar mencerminkan puncak kepasrahan kita di hadapan Allah.
Bayangkan saat kita berada di hadapan-Nya; tidak ada yang bisa diandalkan ketika menghadap Allah. Hanya kepada-Nya lah tempat bersimpuh dan memohon perlindungan sebagai Dzat Yang Maha Pemurah. Innahuu arhamur rahimiin.