"Kemudian mengunjungi pemerintah setempat, kepala lingkungan, kepala kelurahan, kemudian tua-tua kampung, meminta ijin, minta ijin itu juga pakai lagu untuk keliling bersilaturahmi," ujar Onal
Tokoh Masyarakat yang mewakili warga memberikan ucapan syukur dan rasa terima kasih kepada pemerintah setempat atau yang dituakan karena telah memimpin selama satu tahun yang lalu serta mohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan, juga mohon petunjuk untuk memasuki tahun yang baru.
Pemerintah selanjutnya memberikan wejangan atau nasehat kepada warga dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan antara warga dengan pemerintah dan keluarganya.
"Setelah itu secara bersama sama berkunjung sambil bernyanyi dengan diiringi musik, mulai dari Kampung Kakas sampai ke Mahakeret, tidak pilih-pilih rumah, semuanya kami masuki, bahkan sampai pagi hari," kata Onal
Dahulu tradisi Mekiwuka ini dilaksanakan oleh setiap etnis Borgo yang ada di kampung-kampung, seperti Mahakeret, Pondol, Kampung Tondano, Kampung Tombariri, Sindulang, namun sekarang tinggal Kampung Kakas, Kelurahan Wenang Selatan ,Kecamatan Wenang, Manado, Sulawesi Utara yang terus melaksanakannya setiap tahun.
Bahkan tradisi ini diwariskan kepada anak cucu. Kelestariannya masih terus dijaga, dari generasi tua sampai generasi muda yang ada di kampung kakas mengetahui tradisi tersebut.
"Di Manado, hanya Kampung Kakas yang masih mempertahankan tradisi itu turun temurun, di Kampung Sindulang juga ada, namun hanya di Kampung Kakas yang lebih menjaga kelestariannya, dan itu merupakan tradisi asli Manado," ujarnya.