“Ceritanya ringan, tentang persahabatan dua anak dari remaja hingga SMA yang memiliki latar belakang agama dan suku yang berbeda hingga akhirnya ada ketertarikan dan memutuskan untuk bersahabat. Namun, dibalik kesederhanaan ini ada banyak nilai yang dapat diambil, terutama tentang toleransi,” ujar Hartono.
Selain itu, persahabatan dua anak remaja ini, pada realitanya, para pemain yang ada juga lekat dengan latar belakang budaya dan agama yang beragam, namun mampu menjalani kehidupan dengan baik, hidup berdampingan dengan yang lainnya.
Film ini pun akan mengajak para penonton untuk bernostalgia dengan masa sekolah dan nuansa daerah Sulut khususnya Minahasa Utara dan Gorontalo.
“Lokasi syutingnya sesuai dengan latar cerita yaitu di Gorontalo dan Minahasa Utara, termasuk destinasi wisata yang ada di dua daerah ini. Selain mengangkat latar belakang Gorontalo dan Sulawesi Utara khususnya Minahasa Utara, film ini juga makin memperkenalkan bahasa daerah masing-masing, tentunya ada juga bahasa Indonesia,” kata Hartono.
Film ini pun akan menjadi pilihan tontonan bagi keluarga, khususnya bagi yang ada di Sulawesi Utara dan Gorontalo maupun bagi yang ingin menikmati film berlatar keluarga.