Gelombang itu tingginya diperkirakan sampai 25 meter dan melanda sejauh 180 meter dari pantai. Gelombang pertama tak lama kemudian disusul yang kedua. Di Buhias, jatuh korban 300 sampai 400 orang. Erupsi Gunung Ruang baru terjadi kemudian pada 9 dan 14 Maret dengan menyemburkan batu dan pasir.
Kemudian pada 15 November 1874 terjadi erupsi hebat menyemburkan abu dan batuan pijar. Asap erupsi membubung dari kawah, longsoran meluncur di sepanjang lereng gunung api, tanaman banyak yang rusak dan rumah penduduk terbakar.
Tahun 2002, erupsi yang bersifat eksplosif dengan tinggi kolom letusan mencapai kurang lebih 2 km disertai dengan aliran awan panas melanda wilayah seluas 1,6 kilometer. Sedikitnya 1.200 warga harus diungsikan dan sejumlah rumah warga hancur.
Setelah sempat tertidur selama 13 tahun, gunung api dengan ketinggian 725 meter di atas pemukaan laut ini kembali erupsi pada Maret 2015. Intensitas kegempaan gunung yang terletak di Pulau Tagulandang itu fluktuatif antara 25 hingga 30 kali dalam rentang waktu 5 hingga 6 jam.
Bahaya erupsi Gunung Ruang terutama berupa empasan awan panas dan aliran lava yang dapat melanda seluruh pulau. Sedangkan bahaya terhadap pulau di sekitarnya yang berdekatan dapat berupa jutuhan bom vulkanis sampai abu yang mungkin masih panas. Bahaya lahar hanya terbatas di Pulau Ruang saja.