Adapun tantangan bagi PAL Holdings Inc., perusahaan induk dari Philippine Airlines sudah ada sebelum pandemi. Perusahaan telah melaporkan kerugian sejak kuartal I 2017.
Perusahaan mengalami rekor kerugian 71,8 miliar peso (1,4 miliar dolar AS) pada 2020, dibandingkan dengan kerugian 10,3 miliar peso tahun sebelumnya. Saham PAL Holdings telah turun 7,6 persen tahun ini, memperpanjang penurunan 17 persen pada tahun lalu.
"Setelah restrukturisasi, PAL Holdings masih akan menjadi pemegang saham utama PAL. PAL Holdings tidak mengajukan dan status serta pemegang sahamnya akan tetap sama," kata manajemen.
Maskapai ini akan terus mengoperasikan penerbangan penumpang dan kargo berdasarkan permintaan dan pembatasan perjalanan. Perusahaan berharap secara bertahap akan menambah penerbangan domestik dan internasional saat pasar pulih. Perusahaan juga menerima dukungan pemerintah untuk menjadi mitra negara dalam menghadapi pandemi.