Untuk mengendalikan inflasi, BI Sulut, kata Andry telah menyumbang 350 bibit bawang, rica (cabai) dan tomat (barito) yang disebar di kabupaten dan kota.
“Kami juga membantu pupuk yang dapat digunakan cukup untuk tiga bulan. Bahkan BI juga memberikan pendampingan, dengan harapan gaungnya dapat dirasakan masyarakat,” katanya.
Adanya gejolak harga bahan pangan yakni beras yang terjadi belakangan ini, katanya, sesuai fakta yang ada, Sulut tidak mengalami kekurangan stok, karena di pasar sejatinya tersedia dalam jumlah cukup.
Agar harga tidak tinggi, BI mendorong untuk melakukan sidak pasar yang bekerja sama dengan Bulog secara intensif.
"Sebagaimana yang telah dilakukan di Kotamobagu. Strategi ini, harapannya dapat direplikasikan di seluruh kabupaten dan kota,” katanya.
Ia mengatakan, untuk mempertajam strategi, semua permasalahan tidak hanya terletak pada ketersediaan stok dan permintaan. Tetapi juga berkaitan dengan psikologis dari penjual dan pembeli, yang juga harus dijaga.