Selama dalam masa-masa kelam itu, korban mengakui mendapat kekerasan fisik dan seksula. Para pelaku memerkosa dirinya secara bergantian. Jika melawan dia dianiaya dengan benda tumpul hingga mengalami luka lebam di bagian leher.
“Saat mereka tidur, saya melepas ikatan tali dengan mengesekannya di jendela kamar. Lalu saya keluar melalui pintu jendela dan menguncinya kemudian melompat. Saya sudah tidak pikir lagi tinggi atau pendek bangunan,” ujarnya.
Saat ini usai mendapat pertolongan, kondisi korban perlahan mulai membaik. Hanya saja traumanya belum menghilang dan kerap menangis terisak. Korban kini dalam penanganan Dinas Dinas Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak (P2TPA) Kota Makassar.
“Proses pemulihan traumanya masih panjang. Kami juga melakukan pendekatan untuk keluarga korban. Orang tua dan kakak-kakaknya agar tidak mendendam. Mereka juga terpukul dengan kejadian ini," kata Kepala P2TPA Makassar Tenri A Palallo.
Dia mengungkapkan, proses pemulihan fisik dan psikis akan terus dilakukan selama dua pecan berjalan ini. Selain itu, korban juga menjalani pemeriksaan untuk mengeluarkan cairan sperma akibat kekerasan seksual yang dialaminya.
“Kondisinya sudah membaik, tapi masih nangis-nangis. Jika sudah mulai pulih, kami akan kembali korban ke keluarganya,” tuturnya.