“Selain nasabah perorangan, saya juga membina klaster usaha minuman herbal berbahan rimpang dengan memberikan bantuan modal, edukasi pemasaran, serta pendampingan e-commerce. Saat ini, klaster tersebut telah berkembang dengan kemasan yang baik, memiliki sertifikat halal MUI, dan dipasarkan hingga ke luar wilayah desa,” katanya.
Selama menjadi Mantri BRI, Mispa menghadapi tantangan rendahnya literasi keuangan masyarakat, di mana masih banyak warga yang belum terbiasa menggunakan layanan perbankan digital dan menyimpan uang tunai di rumah. Baginya, peran sebagai Mantri bukan sekadar profesi, tetapi juga kesempatan untuk berkembang sekaligus memberi dampak.
“Perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga, tetapi juga bisa membantu perekonomian keluarga, memberdayakan masyarakat, dan membangun negeri. Banyak perubahan positif yang saya rasakan selama menjadi Mantri BRI, terutama dalam komunikasi, wawasan, dan kesejahteraan. Semoga saya bisa terus berkarier setinggi-tingginya di BRI,” tuturnya.
Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, mengungkapkan bahwa mantri BRI merupakan tenaga pemasar produk mikro yang berperan penting sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi kerakyatan di Indonesia.
Dengan pemahaman yang kuat terhadap karakter usaha, potensi wilayah, serta kebutuhan finansial nasabah, mantri tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi juga bertindak sebagai financial advisor yang mengawal pertumbuhan usaha melalui pendampingan menyeluruh sejak tahap awal hingga berkembang.
Hingga saat ini, BRI tercatat memiliki mantri sebanyak 26 ribu dan 28,2 persen di antaranya merupakan mantri perempuan.
“Kisah ini menegaskan bahwa perempuan tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. BRI percaya bahwa kesetaraan kesempatan adalah kunci untuk menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” katanya.