"Ini kampus negeri, aset negara yang patut dilindungi karena kontribusi kampus ini untuk mencetak kaum intelektual untuk mengabdi kepada masyarakat, tanah Papua, dan Indonesia," ujarnya.
Sebelumnya aksi demonstrasi rusuh di Universitas Papua menyebabkan kepala biro akademik dipukul sekelompok oknum mahasiswa. Selain itu massa juga merusak fasilitas kampus.
Unjuk rasa ini bertujuan untuk mendesak kampus menerima puluhan calon mahasiswa yang tak lulus seleksi lokal gelombang pertama. Padahal mereka tidak terdaftar, sehingga tak bisa dianggap ikut dalam tes penerimaan mahasiswa baru.