Kisah Permukiman di Atas Air Agats, Pelosok tapi Warga Pakai Motor Listrik

Arif Budianto
Lokasi Permukiman di Atas Air Agats Papua (Foto: iNews/Arif Budianto)

Penggunaan sepeda motor listrik di Agats sudah berlangsung cukup lama. Menariknya, sepeda motor listrik yang lalu lalang hampir seluruhnya buatan dalam negeri. Motor-motor itu dikirim dari Surabaya, dengan merek unik. Beberapa warga menceritakan, penggunaan motor listrik untuk meminimalisir kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi. 

"Jalan kita terbuat dari papan dan sempit, terbayang jika di sini pakai motor bensin, akan saling kebut-kebutan. Kami khawatir terjadi kecelakaan. Kalau motor listrik ini kan kecepatannya maksimal 30 km/jam," kata salah seorang warga Agats Abas. 

Penggunaan sepeda motor listrik juga tidak membutuhkan biaya bahan bakar yang mahal. Untuk mengisi daya hanya diperlukan waktu tujuh hingga delapan jam, sepeda motor listrik bisa dipakai selama seharian penuh keliling Agats. 

"Listriknya juga lumayan hemat, kalau saya biasa mengisi Rp100.000 bisa untuk men-charger dan kebutuhan rumah lainnya selama satu minggu. Itu sudah termasuk untuk kulkas, tv dan lainnya," katanya.

Kisah Permukiman di Atas Air Agats, Pelosok tapi Warga Pakai Motor Listrik (Foto: iNews/Arif Budianto)

Menurutnya, ada kelebihan dan kekurangan menggunakan sepeda motor listrik ini, misalnya jika batre habis memerlukan waktu minimal satu jam hingga bisa digunakan untuk jarak dekat. Begitupun dengan harga baterai yang cukup mahal hingga Rp4 juta. Walaupun untuk biaya lainnya sangat minim perawatan. 

Presiden Joko Widodo pernah datang ke distrik ini. Saat itu, Jokowi juga menggunakan sepeda motor listrik. Sepeda motor berwarna merah itu hingga kini masih tersimpan di Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat. Di museum ini juga terdapat berbagai seni patung dan ukiran suku Asmat bernilai tinggi.

Salah satu event spektakuler yang menjadi daya tarik dunia adalah Festival Asmat pada bulan Oktober. Pada festival ini akan ada pertunjukan seni Asmat, balap perahu tradisional, hingga ukiran Asmat bernilai seni tinggi. 

"Ukiran yang selama ini disimpan, biasanya dikeluarkan saat event festival. Itu ukiran asli yang dibuat suku Asmat jaman dulu. Harganya sampai puluhan juta. Biasanya turis mancanegara sengaja datang ke sini untuk mengejar ukiran asli Asmat," kata Amir. 

Kendati begitu, untuk sampai ke Agats tidaklah mudah. Hanya ada akses melalui jalur air menggunakan perahu atau speedboat dan pesawat kecil dari Timika. Perjalanan menggunakan speedboat dari Timika memerlukan waktu empat hingga lima jam melalui laut Arafuru. Di laut, penumpang akan menghadapi kondisi air laut pasang, badai, hujan, dan lainnya. 

Namun, jika kondisi cuaca mendukung, perjalanan ke Agats menggunakan speedboat akan menyenangkan. Kita akan dihadapkan pada hamparan laut biru, pulau pulau, dan pemandangan alam asri lainnya.

Editor : Nani Suherni
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Gempa Hari Ini Guncang Mamberamo Tengah Papua, Cek Kekuatan Magnitudonya!

57 tahun lalu

Pilu! 5 Korban Tewas Ledakan Bom PD II di Biak Dimakamkan dalam Satu Liang Lahat

57 tahun lalu

Terungkap! Ini Identitas 5 Korban Tewas Ledakan Bom Peninggalan PD II di Biak Papua

57 tahun lalu

OPM Kembali Berulah, TNI Evakuasi Puluhan Pendulang Emas dari Awimbon ke Boven Digoel

57 tahun lalu

Pengamat Militer Bongkar Alasan KKB Selalu Serang Pekerja Proyek dan Guru di Papua 

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal