Negosiasi sempat dilakukan antara kepolisian dan koordinator lapangan, tetapi sebagian massa tetap bergerak. Ketegangan meningkat ketika terjadi aksi pelemparan batu ke arah petugas memicu tindakan tegas aparat.
Menurut Kapolresta, bentrokan dimulai saat massa melempari batu ke arah aparat. Polisi kemudian menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Aksi pelemparan batu oleh massa yang mulai anarkistis kemudian dibalas sesuai SOP dengan menembakkan gas air mata. Massa semakin brutal, melakukan perusakan terhadap mobil dinas Polri dan membakar mobil milik PDAM Kota Jayapura,” katanya.
Akibat tindakan anarkis itu, dua mobil dinas Polri mengalami kerusakan parah, satu unit mobil PDAM hangus terbakar, dan tiga orang terluka akibat lemparan batu. Dua korban merupakan anggota Polri, sementara satu lainnya warga sipil penjual bakso keliling.
Kapolresta menduga kericuhan ini tidak terjadi secara spontan, melainkan sudah direncanakan sejumlah provokator.