Abu Hurairah meriwayatkan, Nabi SAW pernah menerangkan mengenai salah satu keistimewaan dan hikmah di malam Lailatul Qadar. Nabi bersabda, "Barangsiapa yang bangun di malam lailatul qadar dengan iman dan harapan, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lampau." (HR Bukhari Muslim)
Seperti disinggung di awal, Lailatul Qadar menjadi momentum diturunkannya ayat-ayat pertama Al Quran kepada Nabi Muhammad. Hal itu termaktub dalam firman Allah di surat Al Qadr ayat 1-3:
Allah SWT berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
Arab latin: innā anzalnāhu fī lailatil-qadr
Artinya: 1. "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan"
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Arab latin: wa mā adrāka mā lailatul-qadr
Artinya: 2. "Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?"
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Arab latin: lailatul-qadri khairum min alfi syahr
Artinya: 3. "Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."
Malam Lailatul Qadar menjadi satu-satunya malam yang secara khusus dijelaskan dalam satu keseluruhan surat di Al-Quran, yakni surat Al-Qadr. Pada ayat ke 4-5, disebutkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan.
"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan," (QS Al-Qadr ayat 4-5).