Syarat itu pun disetujui oleh Teda Gaiparona. Ubu Dulla juga diberikan sebungkus cacing laut warna-warni yang menjadi simbol kemakmuran untuk dibawa pulang ke Weiwuang.
Tak berhenti di situ, keduanya juga setuju akan selalu menyelenggarakan Pasola untuk mengenang besarnya hati Ubu Dulla yang mampu merelakan sang istri hidup bersama pria lain. Karena apabila Ubu Dulla tidak rela, maka pertempuran dan pertumpahan darah bisa saja terjadi.
Dalam pelaksanaannya, Pasola akan mempertemukan dua kelompok berkuda yang saling melempar kayu lembing ke arah lawan dengan dipimpin oleh seorang Rato atau tokoh adat. Setiap kelompok diwajibkan mahir menunggang kuda serta menangkis terjangan tongkat yang menyerangnya.
Konon, jika terdapat korban jiwa selama Pasola digelar, maka orang tersebut adalah orang yang dihukum oleh Dewa karena melanggar norma adat setempat. Meskipun demikian, darah yang tumpah bukanlah darah yang sia-sia, melainkan darah yang akan mendorong kesuburan tanah.
Seperti yang telah dijelaskan, Pasola adalah acara tahunan yang berarti hanya digelar satu kali dalam setahun. Tradisi ini biasanya akan diselenggarakan pada permulaan musim tanam, yakni pada bulan Februari hingga Maret.