TGB menjelaskan, islam wasathiyah tidak hanya untuk meluruskan teks-teks agama, menolak ekstermisme hingga radikalisme. Namun, merupakan cara pandang komprehensif yang ditawarkan Islam untuk kehidupan umat manusia.
Karena itu, Islam wasathiyah mencakup aktivitas ekonomi, sosial, budaya dan politik. "Maka, dalam bicara wasathiyyatun-Islam pada konteks ekonomi, kita harus memastikan aktivitas-aktivitas ekonomi baik oleh Indonesia maupun kelompok yang dilakukan negara harus hadirkan nilai keadilan, keseimbangan, dan kemaslahatan untuk semua serta keberlanjutan," katanya.
Menteri BUMN, Erick Thohir mengatakan, Indonesia sangat kaya karena punya sumber daya alam dan penduduk yang produktif. Itu sebabnya, ekonomi Indonesia diprediksi akan tumbuh terus hingga 2045 yang akan menempatkan Indonesia menempati peringkat keempat ekonomi terbesar di dunia. Dengan kata lain, Indonesia akan menjadi negara ekonomi muslim terbesar di dunia.
Sementara itu, populasi muslim dewasa kelas menengah akan tumbuh dari 161 juta orang menjadi 184 juta orang. Dari segi pendapatan, pangsanya akan makin kuat dari 39 persen menjadi 57,6 persen.
"Namun, ada yang menggelitik. Ketika bicara ekonomi keislaman, kita sangat konsumstif (produk halal) dan itu nomor empat terbesar di dunia namun ketika bicara produksinya, lima besar pun tidak masuk. Jadi ada yang salah. Kita hanya tumbuh konsumsinya tapi produksinya tidak," kata Erick.
Menurutnya, hal itu yang menjadi salah satu dasar pemerintah melakukan penggabungan bank syariah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI). Sebab, dengan adanya institusi keuangan syariah yang terpusat, pemerintah bisa mendorong keseimbangan.
"Inilah mengapa kami di BUMN harus mengintervensi dan memastikan, kalau memang tidak ada keseimangan harus kita coba seimbangkan," kata Erick.