“Jangan karena bukan ke kita kemudian disebarkan, jangan mengatakan itu kan bukan saya. Ingat, sebagaimana kita berlaku seperti pula kita diperlakukan, bila kita berbuat kebaikan maka akan berbuah kebaikan,” tegas Doktor Ahli Tafsir Alquran ini.
Energi fitnah, lanjut TGB, hadir dan menjadi berlipat karena ada gerakan dari manusia. Fitnah yang dianggap kecil pun kemudian menjadi berlipat serangannya. Kadang kala, ketika berniat meluruskan fitnah pun justru mendapat serangan balik.
“Maka pilihannya diam dan tidak usah ikut-ikutan. Dalam kondisi seperti ini, amal saleh yang pasif itu lebih manfaat, apalagi disaat masa menyebarnya fitnah,” bebernya.
Rektor IAIH Pancor ini melanjutkan, fitnah yang terjadi di tengah masyarakat, bukan hanya saat ini saja. Dikatakan, setelah Nabi Muhammad wafat, fitnah muncul di tengah sahabat.
Seperti masa Usman bin Affan, muncul provokasi dari orang yang tak mendapat jabatan, mereka menyebut khalifah setelah nabi ini hanya mengangkat orang dekatnya.