“Mulai panas sejak gempa itu dan suhunya belum turun sampai sekarang. Tadinya kami kira itu ada hubungannya dengan aliran listrik, tapi lantainya masih tetap panas walau listrik sudah dipadamkan,” katanya.
Kendati luasan hawa panas tidak mencapai keseluruhan lantai ruang keluarga, kejadian ini membuat keluarga Hutapea merasa panik dan waswas akan akan terjadi sesuatu pada bangunan rumah mereka.
Peristiwa yang tidak biasa tersebut, kata Christin, sudah dilaporkan ke Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dan mereka mengirimkan satu peneliti untuk mengambil data.
"Panasnya tidak di keseluruhan lantai ruang keluarga, tapi kami agak takut juga. Tadi sudah ada peneliti LIPI yang datang mengukur suhunya, katanya panas lantai mencapai 42 derajat Celcius," ucap Christin.
Ahli geologi dari P2LD LIPI Fahreza Sasongko yang sementara meneliti mengenai dampak gempa tektonik magnitudo 6,5 di Ambon, saat dihubungi mengakui seorang peneliti sudah diturunkan ke rumah keluarga Hutapea untuk mengambil data awal.
"Tadi, karena saya tidak sempat jadi ada teman yang sudah ke sana untuk mengambil data awal. Sore ini saya akan ke sana lagi untuk memeriksa lebih lanjut, hasilnya akan kami konfirmasi," kata Fahreza.