TERNATE, iNews.id - Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi bermagnitudo (M) 7,2 di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, pada Minggu (14/7/2019), terus bertambah. Sampai hari ketujuh pascagempa, sudah 10 warga meninggal. Perinciannya, tiga saat kejadian dan tujuh di lokasi pengungsian.
Bahkan hingga saat ini, gempa susulan masih kerap terjadi hingga membuat warga tetap bertahan di tenda-tenda pengungsian yang tersebar di hutan dan pegunungan. Kondisi para pengungsi juga mulai banyak yang jatuh sakit karena sulitnya akses untuk mengantar distribusi ke pengungsian.
Salah satu korban meninggal di pengungsian yakni Nurul Safar (63) warga Tomara. Korban diduga meninggal akibat penyakit stroke yang dideritanya. Selama di pengungsian, almarhum minim perawatan medis dan hanya mengandalkan pengobatan tradisional.
“Ibu saya punya sakit stroke, waktu kejadian gempa kami evakuasi. Almarhum kami naikkan ke gerobak dan kami cari tempat aman di gunung. Sejak itu kondisinya terus menurun,” Rugaya, anak almarhum, Senin (22/7/2019).
Wakil Bupati Halmahera Selatan Iswan Hasjim mengatakan, sebanyak 73 desa di 10 kecamatan masuk dalam status tanggap darurat. Sementara empat yang lokasinya di pesisir rencananya akan direlokasi. Keempat desa itu yakni Desa Pasipalele, Papaceda, Lemo-Lemo dan Desa Yomen.