“Dengan demikian, pelaku UMKM hanya perlu mengembalikan pokok pinjaman tanpa dibebani bunga. Tak hanya pembiayaan, program ini juga dilengkapi dengan jaminan kredit hingga 70 persen melalui PT Jamkrida Kalteng, serta pendampingan usaha secara menyeluruh mulai dari sebelum hingga setelah pencairan dana,” ujarnya.
Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan keberlanjutan usaha para pelaku UMKM. Pemerintah juga menyiapkan sistem digital berbasis dashboard untuk memantau penyaluran kredit, performa usaha, hingga potensi risiko kredit macet secara real time.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan tata kelola program berbasis data. Secara ekonomi, program Haguet diproyeksikan mampu mendorong perputaran ekonomi daerah hingga Rp225 miliar dan membuka lapangan kerja bagi 6.000 hingga 9.000 orang.
Skema Haguet sekaligus menjadi solusi atas berbagai kendala klasik UMKM di Kalteng, seperti keterbatasan akses kredit formal, tingginya biaya pinjaman, hingga persoalan agunan dan pembukuan usaha yang belum memadai.
“Dengan pendekatan terintegrasi mulai dari pembiayaan, penjaminan, hingga pendampingan, pemerintah optimistis program Haguet mampu mendorong UMKM Kalteng naik kelas dan menjadi motor penggerak ekonomi daerah,” katanya.