Menurutnya, masalah metabolik tersebut bisa berupa kencing manis, darah tinggi, kolesterol tinggi dan penyebab-penyebabnya lain yang menyebabkan terjadi penyempitan pembuluh darah dan menjadi penyakit jantung koroner.
Dia mengungkapkan, penyebab lainnya, yaitu faktor genetik berupa kerusakan pompa jantung yang membuat jantung bengkak atau membesarnya ukuran jantun. Selain juga akibat adanya infeksi Covid-19 dan hypertensive heart disease.
“Jadi memang kalau ditanya penyebabnya beragam cuma paling banyak karena penyempitan,” ucapnya.
Dia mengajak masyarakat untuk mengendalikan semua faktor risiko yang bisa menyebabkan terjadinya gagal jantung. Selain itu dia juga meminta masyarakat waspada terhadap penyakit diabetes, kadar kolesterol tinggi dan menjauhi rokok.
Kemudian, istirahat yang cukup, memerhatikan gizi seimbang dengan menjaga pola makan yang memenuhi sayuran hingga protein, membatasi garam dan melakukan aktivitas fisik secara rutin.
Sedangkan bagi yang sudah terlanjur terdiagnosis gagal jantung, kenali gejala gagal jantung dan jangan sampai tertunda memeriksakan diri karena abai terhadap kondisi kesehatan diri atau keluarga, terutama jika sudah mengalami sesak napas.
“Jangan lupa minum obat teratur karena obat-obatan diprogram oleh dokter tujuannya adalah untuk mengontrol gejala. Jangan sampai bapak ibu yang menderita jantung harus masuk rumah sakit secara berulang kali. Ketiga, batasi cairan dan batasi garam untuk menghindari jangan sampai terjadi kelebihan cairan,” ucapnya.