Kedua, data yang dirilis Pemkot Banjarmasin yang merefleksikan warna zona tidak konsisten. Sebagai contoh data agregasi level kota kasus positif sebanyak 2.099 kasus, dirawat atau kasus aktif sebanyak 1.045 kasus, sembuh 890 kasus dan meninggal sebanyak 140 kasus.
"Sekarang kita gunakan data kasus positif, sembuh, dan meninggal pada tiap kelurahan. Dari 52 kelurahan diperoleh jumlahnya mencapai kasus positif sebanyak 1.763 kasus, sembuh 1.170 pasien, meninggal 166 kasus. Berdasarkan penjumlahan ini, maka diperoleh data kasus aktif atau dirawat sebanyak 440 kasus. Sehingga data yang disajikan oleh Pemkot sendiri tidak sinkron dengan rilis data agregasi pada level kota," kata Ahli Forensik dan Medikolegal itu.
Iwan juga mengaku bingung apakah kasus positif yang disebutkan dalam infografis tersebut adalah data total kasus positif atau data kasus aktif (dirawat) saja. "Ini perlu penjelasan dan perbaikan supaya data tersebut dapat dipegang oleh publik," katanya.
Ketiga, klaim zona hijau itu secara psikologis tidak baik. Sebab salah satu masalah di Kota Banjarmasin adalah bagaimana mengedukasi masyarakat, sehingga mereka kemudian menerapkan protokol kesehatan secara ketat.
Tetapi faktanya masih banyak warga yang abai terhadap protokol kesehatan seperti penggunaan masker yang tak semuanya melakukan.