Angka 10 persen tersebut, dihitung secara kasar dengan empat ketidakpatuhan, yakni tidak menghindari kerumunan, tidak menggunakan masker, tidak menjaga jarak dan tidak mencuci tangan. Namun, jika hanya disandingkan dengan tiga ketidakpatuhan, maka perhitungannya adalah 7,5 persen reaktif. Kemudian angka reaktif 7,5 persen itu dihitung pada total populasi Kota Banjarmasin sebesar 700.000 penduduk, maka jumlahnya 52.500 orang.
Bila semua penduduk reaktif tersebut mengikuti pemeriksaan swab, diprediksi sebesar 40 persen atau 21.000 orang terkonfirmasi positif. Jika didudukan secara emperis, maka 25 persennya bergejala. Artinya akan ditemukan 5.250 orang sakit corona dan sisanya sebesar 75 persen atau 15.750 orang tanpa gejala (OTG).
“Bisa dibayangkan, dengan kepatuhan seperti saat ini, berpotensi untuk penemuan masalah yang sangat besar, yaitu 15.750 OTG yang perlu diisolasi, 5.250 orang sakit corona yang perlu opname dan ada 420 orang di Banjarmasin yang dikhawatirkan meninggal dunia karena Covid-19,” kata Dharma.
Karena itu, Dharma mengajak seluruh masyarakat, mematuhi imbauan pemerintah untuk memutus mata rantai penularan virus corona, yakni tetap di rumah. Namun, bila terpaksa keluar rumah untuk urusan yang mendesak dan penting, harus menggunakan masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta rajin cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.
“Dengan disiplin mematuhi imbauan itu, Covid-19 segera tuntas dan pertumbuhan ekonomi kembali pulih. Namun, jika tidak patuh, maka kesakitan, kematian dan kemiskinan sudah siap menghampiri kita,” ujarnya.