“Anak buah saya kenal semua sama komandan-komandan PGRS. Bahkan ada cerita, ada salah satu dari kita yang tertangkap dalam keadaan luka-luka. Karena kenal, diobatin, terus ditinggalin di pinggir kali,” kata Hendropriyono, dikutip iNews.id dari buku Kopassus untuk Indonesia Profesionalisme Prajurit Kopassus, Selasa (21/12/2021).
Di masa itu, Hendropriyono mesti melakukan pertempuran demi pertempuran walaupun pedih karena harus melawan anak didiknya. Dia awalnya melakukan pendekatan persuasif dan sebagian menuai keberhasilan. Hanya saja, pasukan Kopassus kadang terpaksa menangkap dan menewaskan tokoh-tokoh gerilyawan Kalimantan itu jika langkah persuasif tidak berhasil.
"Masalahnya begini. Kita melatih PGRS. Kewaspadaan Bung Karno dulu jangan sampai ini mengotori pasukan nasionalis karena PGRS kan dulu komunis. Karena itu dibentuklah TNKU alias Tentara Nasionalis Kalimantan Utara untuk memisahkannya dengan komunis. Tapi latihannya bareng. TNKU itu isinya RPKAD, isinya kita,” kata Hendropriyono.
Mantan Pangdam Jaya itu mengatakan, awalnya, TNKU dikomandani oleh Letjen Zulkifli. Namun, dua tahun kemudian TNKU dipimpin oleh Ahmad Zaidi. Belakangan diketahui Ahmad Zaidi merupakan mata-mata Inggris. Pasca-PGRS, Ahmad Zaidi menjadi menteri besar di Sarawak, Malaysia.
“Kita melatih mereka dulu karena kampanye Konfrontasi dengan Malaysia,” kata Hendropriyono yang dijuluki master of intelligence ini.