Menurut buku biografi yang ditulis Muhammad Rikaz Prabowo, Rubini juga salah satu dari beberapa dokter lulusan Nederlands Indische Artsen School (NIAS).
Usai lulus dari STOVIA pada tahun 1930, Rubini menjadi dokter di Jakarta. Kemudian empat tahun kemudian atau tahun 1934, dia dipindahkan ke Pontianak. Di penempatan barunya itu dia bertugas sebagai Kepala Kesehatan Pontianak.
Selain menjadi dokter, Rubini juga aktif mendukung perjuangan kemerdekaan melalui jalur politik. Pada tahun 1939, Rubini tergabung dalam pergerakan kebangsaan lewat Partai Indonesia Raya (Parindra) di Kalbar.
Pada tahun 1940-an, pemerintah kolonial mengadakan evakuasi terhadap pejabat-pejabat Belanda ke Jawa. Hal ini terjadi karena terjadinya Perang Pasifik serta menjelang kedatangan tentara Jepang.
Saat dilakukan evakuasi, tokoh-tokoh pribumi seperti Rubini ikut diajak. Namun Rubini menolak karena kecintaannya kepada Kalbar.