Karena itu, Risma berharap semua harus mengikuti protokol dan aturan. Artinya, tidak semua orang harus dirujuk ke Surabaya dan diterima oleh rumah sakit di Surabaya.
“Kalau sedang-sedang saja dan masih bisa diatasi di daerah, kenapa harus dirujuk ke rumah sakit di Surabaya?” katanya.
Sementara Ketua IDI Surabaya, dr Brahmana Askandar mengakui keluhan Risma tersebut. Karena itu, agar tidak terjadi overkapasitas oleh pasien luar Surabaya, pihaknya akan berkoordinasi dengan IDI di seluruh Jatim agar tidak ada rujukan lepas.
“Yang bisa ditangani di daerah, tidak perlu dirujuk ke Surabaya karena seluruh rumah sakit bisa menangani,” katanya.
Sementara itu, Ketua Persi Jatim, dr Dodo Anondo mengatakan, pihaknya akan membuat pola agar tidak ada rujukan lepas di rumah sakit-rumah sakit daerah ke Kota Surabaya.
“Sebetulnya saya sudah mengingatkan teman-teman direktur rumah sakit di Jatim. Kan di wilayah ada rujukan. Misalnya di Madiun ada RSUD Sudono, Syaiful Anwar Malang. Itu sebetulnya sudah bisa terima. Tidak perlu adanya rujukan. Tiba-tiba di IGD banyak warga dari luar kota,” katanya.