"Karena berbagai hal pembangunan masjid ini sempat macet. Kemudian pada 4 Agustus 1974 atas prakarsa KH. Masykur dibicarakan kembali pembangunan masjid ini di rumah beliau di Singosari. Pada 8 Agustus 1974, pembangunan masjid ini dimulai kembali," kata Farkhan.
Farkhan menambahkan pembangunan masjid ini memerlukan waktu kurang lebih enam tahun dengan bantuan dari Pemerintah Kota Malang kala itu.
Sempat terhenti beberapa tahun, pembangunan masjid akhirnya selesai. Masjid tersebut menempati lahan seluas 8.100 meter persegi, terdiri atas bangunan induk masjid, menara, ruang kantor, tempat wudu, dan ruangan sekolah.
Uniknya, Masjid Sabilillah memiliki konstruksi bangunan yang melambangkan pergerakan perjuangan Indonesia. Jumlah pilar di luar masjid sebanyak 17 buah melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Sementara ketinggian masjid dari lantai bawah hingga atap yakni 8 meter, melambangkan bulan Indonesia merdeka dari penjajah. Sementara tahun kemerdekaan Indonesia, 1945, dilambangkan pada lebar masjid dan tinggi menara yakni 45 meter dari permukaan tanah.
Jarak antarpilar satu dan lainnya juga memiliki filosofi tersendiri. Kerenggangan lima meter antarpilar itu melambangkan Pancasila dan rukun Islam yang berjumlah lima. Di bagian menara masjid berbentuk segi enam melambangkan rukun iman.
Di dalam masjid, juga terdapat sembilan pilar penyokong yang melambangkan jumlah Wali Songo, penyebar agama Islam di Pulau Jawa.