“Sebagai partai oposan bervisi kerakyatan, Gerindra harus hati-hati. Mengusung calon borjuis malah bisa kontraproduktif bagi citra Gerindra sendiri. Sebab, pilihan ini berpotensi mendapat efek elektoral negatif,” tutur doctor muda asal Lamongan ini.
Karena itu, Surrochim memandang, keputusan Gerindra ini memajukan Moreno tak lebih dari dua alasan. Pertama adalah karena Moreno adalah kader sendiri. Kedua adalah demi eksistensi partai. Sebab, dengan 13 kursi di DPRD Jatim, kurang pantas rasanya jika tidak memiliki jago di Pilgub Jatim.
“Sehingga Gerindra tidak mempertimbangkan peluang menang dalam kontestasi. Kecuali hanya numpang populer untuk persiapan Pemilu 2019,” ucapnya.
Sebelumnya dikabarkan, Partai Gerindra mengusung Moreno Suprapto sebagai bakal calon gubernur (cagub) Jawa Timur pada Pilgub 2018. Politisi muda Gerindra yang juga mantan pembalap itu dinilai memiliki nilai jual dengan prestasi cemerlang, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bahkan dikabarkan sudah merestui Moreno sebagai bakal cagub di Pilgub Jatim. DPP juga sudah menyampaikan langsung penugasan partai kepada Moreno dan dia menyatakan kesiapannya maju di Pilgub Jatim.