“Dia itu baik. Meskipun ada masalah tapi tetap ceria. Terus jarang juga cerita sama teman-temannya. Sama teman-teman juga baik, selalu menyapa, meskipun tidak terlalu dekat. Dia juga pintar anaknya,” kata Grace Margareth, teman sekolah EP saat ditemui di sekolahnya, Kamis (31/5/2018).
Sebelum meninggal, EP sempat bercerita kepada teman sekelasnya, dia ingin melanjutkan sekolah di Kota Blitar. “Dia pernah bilang takut, kan rumahnya jauh dari SMA tujuan. Dia itu zonasinya di SMA Srengat kalau tidak salah. Dia takutnya tidak bisa masuk di SMA Negeri 1 (Kota Blitar) itu,” kata Wulandari, teman korban lainnya.
Di mata guru-gurunya, EP merupakan siswi yang berprestasi. Dia sering mengikuti lomba olimpiade matematika tingkat SMP di berbagai daerah. EP juga selalu masuk tiga besar di kelasnya. Bahkan, nilai ujian nasionalnya rata-rata hampir sembilan.
“Karakternya juga bagus. Dia tidak pernah punya catatan buruk di BK (Bimbingan dan Konseling). Jadi kami dari pihak sekolah juga terkejut dengan peristiwa itu,” kata Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Blitar, termpat korban bersekolah.
Sebelum meninggal EP meninggalkan surat wasiat, bahwa dia sudah menyerah. Dia tidak menyebut secara pasti alasannya mengakhiri hidup. EP hanya meminta untuk segera disemayamkan. Kini jenazah EP masih disemayamkan di Wisma Paramita Kota Blitar sebelum dimakamkan.