"Sampah plastik yang laku dijual ke pabrik daur ulang. Untuk dijadikan pellet plastik kemudian dikirim ke China. Tapi proses daur ulang sangatlah kotor. Sampah plastik dicuci dengan air sungai, lalu dibuang ke sungai lagi tanpa adanya pengelolahan limbah cair, sehingga mencemari lingkungan sungai," tuturnya.
Bahaya dari aktivitas itu, lanjut Nina, limbah dari pengelolahan sampah menimbulkan mikroplastik. Ukurannya kurang dari 5 mm. Jika ada mikroplastik di sungai, ikan-ikan akan terkontaminasi, mengakibatkan bahaya bagi manusia pemakan ikan di sungai.
Mikropalstik bisa menyebabkan penyakit serius pada manusia, seperti gangguan reproduksi, gangguan pertumbuhan, menopause dan menstruasi lebih awal.
Tidak hanya itu sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang dijual ke pabrik tahu untuk dijadikan bahan bakar. Namun membakar plastik akan melepas gas beracun seperti dioxin, yang dapat menyebabkan kangker, cacat janin, gangguan paru-paru, bahkan kematin.
"Bapak Jokowi, saya sudah melihat dan merasakan serta meneliti bahwa air sungai kami, baik di Sungai Berantas, Sungai Porong, Sungai Surabaya dan Sungai Marmoyo mengandung mikroplastik. Saya juga melihat bagaimana industri membuang limbah berwarna putih, hitam pekat mempengaruhi air warna sungai," katanya.