Dari situ, dia mencari informasi dari berbagai jurnal. Hasil penelusurannya, ternyata belum ada yang melakukan penelitian itu. ”Dan dari situ pula saya mencoba melakukan penelitian terhadap ini secara ilmiah,” kata dia.
Penelitian tentang daun sengon dan cabai Safina itu akhirnya diganjar penghargaan dalam Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2018.
Dia menjadi salah satu dari 14 finalis Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-50 yang diselenggarakan LIPI. Dari bidang ilmu pengetahuan hayati, Safina satu-satunya dari kategori MTs/SMP atau sederajat.
Atas capaian ini, dia pun diberi kesempatan berangkat ke Arizona Amerika. Sepekan di Arizona, 12 – 19 Mei 2019, Safina mengikuti Broadcom Master International Program di Phoenix Arizona Amerika Serikat.
“Dulu saya bercita-cita menjadi polisi, tapi setelah saya mengenal dunia sains di Amerika, saya kepingin jadi ilmuwan saja di sana. Ingin mengembangkan penelitian di sana dan pokoknya saya harus ke luar negeri kalau kuliah,” ujarnya, saat di kantor Humas Kemenag.
Safina mengaku mendapatkan pengalaman yang tidak mungkin dilupakan saat berkumpul bersama 27 orang delegasi dari 18 negara. Mereka diajak mengunjungi Arizona State University, salah satu universitas sains terbaik di Amerika.
Di tempat itu para siswa dikenalkan dengan solar system, robot –dan lainnya. Selain itu para peserta diajak ke Botanical Garden untuk mempelajari tentang ragam Kaktus yang paling tua, dari seluruh dunia.
”Termasuk ke museum-museum untuk mempelajari tentang kultur Amerika, dari mulai pakaian, rumah, sampai adat-istiadat. Kita juga ke MIM (museum instrument music), di dalamnya dapat ditemukan alat musik dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia,” ujarnya.