Sejarah Bhinneka Tunggal Ika, Warisan Kerajaan Majapahit untuk Indonesia

Avirista Midaada
Lambang garuda dengan tulisan Bhinneka Tunggal Ika. (Foto: Freepik)

Dari sanalah akhirnya rumusan lebih tegas terkait hubungan antara kedua agama ini dicetuskan pada Kakawin Sutasoma. 

Kakawin ini ditulis semasa pemerintahan Sri Rajasanagara atau yang dikenal dengan Hayam Wuruk dengan bahasa Jawa kuno. Di dalam Kakawin Sutasoma, pada Pupuh CXLVII bait satu jelas-jelas mengatakan bahwa karyanya itu adalah sebuah boddhacarita atau cerita yang bersifat buddha. 

Sementara bait yang mengandung ungkapan Bhinneka Tunggal Ika terdapat pada Pupuh CXXXIX dengan bahasa Jawa kuno berbunyi "rwaneka dhatu winuwus wara Buddha Wiswa bbhineki rakwa ring apan ke parwwanose'n mangkaang jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal bbinneka tunggal ika tan bana dharmma mangrwa".

Bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia Pupuh CXXXIX poin lima itu berbunyi "dikatakan bahwa mereka yang terpilih, Buddha dan Wiswa (Siwa) merupakan dua elemen dasar, tidak tunggal terpisah itu konon karena dapat segera dibagi dua, (padahal) dalam pada itu ke-jina-an (kebuddhaan) dan kebenaran Siwa itu tunggal itu terpisah (tetapi juga) tunggal, tak ada kebenaran yang mendua. 

Pada bait itu terungkap Dewa Siwa disamakan dengan Buddha. Lebih tegas bahkan diingatkan bahwa ada kebenaran Siwa - Buddha yang halus dan penuh kasih. Pertemuan dan penyatuan Siwa dan Buddha ini pun telah dimulai dengan tegas sejak zaman Singasari yakni saat raja terakhir Kertanagara setelah meninggal dibuatkan arca peringatan dalam wujud sebagai Siwa maupun Buddha.

Perumusan-perumusan yang dihasilkan di zaman Majapahit baik dalam bentuk sastra maupun arsitektur, pada dasarnya merupakan daya kreatif untuk mengatasi keanekaan agama. Masalah keanekaragaman tersebut perlu dikelola dalam rangka upaya bina negara di zaman Kerajaan Majapahit.

Editor : Donald Karouw
Artikel Terkait
57 tahun lalu

Arkeolog Temukan Situs Majapahit di Bawah Jalan Desa Mojokerto, Begini Wujudnya

57 tahun lalu

Dikunjungi Dubes Boroujerdi, Jokowi Sampaikan Simpati ke Rakyat Iran

57 tahun lalu

Dubes Belanda Temui Jokowi di Solo, Bahas Apa?

57 tahun lalu

Motif Sakit Hati soal Warisan, Ayah Bunuh Anak Kandung di Lamongan

57 tahun lalu

Kaleidoskop 2025: 10 Bencana Alam Paling Mematikan di Indonesia, Renggut Ribuan Jiwa

Berita Terkini
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
Network Updates
News updates from 99+ regions
Personalize Your News
Get your customized local news
Login to enjoy more features and let the fun begin.
Kanal