“Kita melihat ada inovasi baru dalam screening Covid-19 yakni dengan air liur dan hal ini bisa sebagai pengganti tes PCR dan air liur ini mudah dikorek diambil dan tidak perlu tenaga ahli yang khusus terlatih,” katanya, dikutip Selasa (22/12/2020).
Selain itu, Prof Hananiel Prakasya Widjaya menambahkan, metode ini juga lebih friendly untuk anak kecil dan hasilnya lebih cepat yakni enam jam. “Kalau PCR itu 24 jam dan lebih cepat empat kali lipat dan hal tersebut akan diaplikasikan pada bulan Januari 2021, karena tes air liur ini masih dalam proses registrasi dari Kementerian Kesehatan RI.”
Sementara itu, Tim Peneliti Saliva Based Testing RS Nasional Hospital dr Silvia Hanin menjelaskan cara kerja metode ini. Di mana pemeriksaannya hanya akan membutuhkan air liur sebanyak 0,1 liter yang ditampung dalam tabung atau reagen khusus.
Kemudian, sampel diproses dengan menggunakan teknologi turbo extraksi atau pengidentifikasian virus yang membutuhkan waktu 30 menit. Oleh karena itu, hasil dalam enam jam bisa diketahui serta akurasinya hampir sama dengan tes swab, yakni 90 persen.
“Jadi saliva ini kita kan prosesnya sampel air liur dan tak perlu memasukkan alat di mulut atau hidung. Kita hanya masukkan air liur ini ke tabung dan dikocok, serta hal ini bisa bertahan selama lima hari. Penelitian ini dilakukan lima bulan lalu serta tingkat keakuratan ini sekitar 90 persen, metode ini sensitifitasnya lebih cepat,” katanya. (CM)