“Kami minta perlindungan dari aparat supaya merasa aman,” katanya.
Dia mengatakan, saat penyerangan, dirinya tengah tertidur tiba-tiba terdengar suara gaduh. Massa dari pesilat melempari rumah-rumah dengan batu.
“Saya lari ke belakang karena takut,” katanya.
Untuk menghindari adanya serangan susulan, kini aparat dari TNI-Polri berjaga 24 jam di desa tersebut. Penjagaan ketat ini akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan sampai kondisi sudah dirasa aman.
Sebelumnya, bentrokan antara warga dan sekelompok oknum pesilat terjadi pada Minggu (9/8/2020). Hal ini dipicu para pesilat mengambil bendera merah putih yang dipasang warga di depan rumah tanpa izin.
Pemilik lantas menegur para pesilat tersebut. Tak terima ditegur, pesilat lantas mengamuk dan terjadi bentrokan. Tiga warga luka-luka dan dilarikan ke puskesmas setempat.
Pada Senin dini hari, massa pesilat dengan jumlah yang lebih besar melakukan serangan susulan dengan merusak rumah warga. Mereka melempari rumah-rumah dengan batu.