Sejumlah sopir mengaku harus mengeluarkan uang sebesar Rp300.000-400.000 setiap kali rapid test dengan massa berlaku 3-4 hari.
“Biaya rapid test-nya mahal sekali. Masa berlakunya hanya tiga hari, padahal kami ini mengirim sayur dan buah ke Bali bisa 2-3 kali seminggu,” kata sopir buah, Wahyu.
Hingga malam tadi, para sopir tersebut tak beranjak. Mereka tetap menggelar aksinya hingga malam hari.
Semua kendaraan pikap bermuatan buah, sayur, dan janur diparkir di pinggir jalan tak jauh dari pelabuhan. Mereka berharap pemerintah memerhatikan nasib mereka terkait biaya rapidtest yang sangat memberatkan.