Dia juga merupakan satu dari ratusan penambang pasir yang kerap beraktivitas di Sungai Sumbersari dan Sungai Besuk Kobokan. Kendati memiliki area perkebunan cabai, tetapi hasil utama nafkahnya berasal dari penambang pasir.
"Kalau nambang pasir itu lebih menjanjikan memang, kalau nambang dapat Rp 150 ribu rata - rata sehari, paling sedikit sehari Rp 50 ribu. Itu biasanya saya kerja jam 7 pagi sampai jam 2 siang atau 4 sore," ungkap pria dengan tujuh orang anak.
Pendapatan itu dikatakan Ponidi bisa lebih dari Rp 150 ribu tergantung orang yang ikut menggali pasirnya. Satu penambang bahkan ada yang biasanya mendapat Rp 300 ribu per orang per hari. Hasil itu merupakan bagi hasil dari kuli penambang, supir truk, dan setoran yang diberikan ke pemilik truk dan sang juragan.
Nasib Ponidi beruntung, ia tak menjadi korban terkuburnya material erupsi Gunung Semeru. Mengingat ia sudah dua hari meliburkan diri menambang pasir lantaran merasa ada sesuatu yang mengganjal.
"Kayak sudah firasat nggak enak, makanya libur dua hari itu nambang. Kalau mungkin ikut nambang waktu itu, ya nggak tahu juga masih ada atau enggak saya, tetangga ada yang ikut kekubur," katanya.